Jakarta,Cakrawala– Mudik Lebaran 2026 akan kembali menjadi puncak mobilitas terbesar di Indonesia. Berbeda dengan Nataru yang bersifat wisata dan opsional, mudik Lebaran adalah tradisi kultural yang tak bisa ditawar. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat tetap akan mudik, meski dengan pola belanja yang lebih hemat.
Karena itu, keberhasilan mudik tidak cukup diukur dari lancarnya lalu lintas, tetapi dari kemampuan negara melindungi keselamatan pemudik tanpa mematikan roda ekonomi.
Kunci utamanya ada pada penguatan transportasi umum, terutama di daerah. Maraknya travel gelap dan tingginya mudik sepeda motor menunjukkan angkutan umum lokal belum hadir sebagai solusi. Pemerintah harus mempercepat pembenahan angkutan umum daerah agar masyarakat memiliki pilihan moda yang aman dan terjangkau.
Program mudik gratis perlu dibenahi melalui satu platform nasional agar tepat sasaran dan bebas pendaftaran ganda. Anggaran mudik gratis juga harus didistribusikan merata ke daerah, termasuk penguatan mudik laut bagi masyarakat antarpulau.
Mudik sepeda motor, terutama yang membawa anak-anak, perlu dikurangi secara tegas. Data menunjukkan kecelakaan memang menurun, namun sepeda motor tetap menjadi moda dengan risiko tertinggi. Solusinya bukan sekadar larangan, tetapi menyediakan transportasi pengganti yang aman dan mudah diakses.
Di sisi lain, pembatasan angkutan barang tak boleh terus mengorbankan logistik jalan raya. Pemerintah harus mulai mengalihkan beban logistik ke kereta api dan kapal laut agar mudik lancar tanpa melumpuhkan ekonomi nasional dan penghasilan sopir.
Mudik Lebaran 2026 adalah ujian besar tata kelola transportasi nasional. Negara dituntut hadir bukan hanya mengatur arus lalu lintas, tetapi melindungi nyawa manusia dan menjaga denyut ekonomi secara bersamaan.(Ef)
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat.












