Jakarta,Cakrawala– Pemerintah diingatkan agar tidak hanya mengandalkan jalan tol dalam menghadapi arus Mudik Lebaran 2026. Perbaikan dan penguatan jalan arteri dinilai sama pentingnya agar pemudik memiliki alternatif jalur yang aman dan nyaman.
Berdasarkan Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan Tahun 2026, potensi pergerakan masyarakat saat Lebaran diprediksi mencapai 143,9 juta orang. Angka ini memang sedikit menurun dibandingkan 2025 yang mencapai 146 juta orang, namun tetap menunjukkan mobilitas dalam skala sangat besar.
Sebanyak 95,27 juta orang atau 66,2 persen bepergian untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman. Sementara 27,78 juta orang (19,3 persen) melakukan perjalanan untuk mengunjungi orang tua dan sanak saudara. Mobil pribadi masih menjadi moda favorit dengan 76,24 juta pengguna (52,98 persen). Dari jumlah itu, 50,63 juta orang atau 66,40 persen memilih melintasi jalan tol.
Kondisi tersebut berpotensi memicu kepadatan ekstrem di sejumlah ruas utama. Ruas Tol Jakarta–Cikampek tercatat sebagai jalur terpadat dengan proporsi 16,30 persen atau sekitar 8,25 juta kendaraan. Disusul Jakarta–Cikampek II Elevated (Layang MBZ) sebesar 15,10 persen dan Tol Dalam Kota Jakarta sebesar 14,20 persen.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai penambahan tol bukan solusi tunggal.
“Jangan hanya terpaku pada jalan tol. Jalan arteri harus dibenahi agar pemudik tidak merasa dipaksa masuk tol demi mencari kenyamanan,” ujarnya.
Menurut Djoko, baik jalan tol maupun arteri di Pulau Jawa pada dasarnya tidak dirancang untuk lonjakan volume ekstrem seperti saat Lebaran. Karena itu, pengaturan lalu lintas yang matang menjadi kunci utama untuk mengendalikan arus sekaligus menjaga keselamatan.
Data PT Jawa Marga (2026) mencatat adanya tambahan 120,76 kilometer jalan tol fungsional di empat titik utama, termasuk Tol Jakarta–Cikampek II Selatan dan Tol Probolinggo–Banyuwangi. Selain itu, dua ruas di wilayah DIY dan Jawa Tengah juga akan difungsikan untuk mendukung kelancaran arus mudik.
Namun, peningkatan panjang jalan tol tidak otomatis menghilangkan risiko kemacetan. Popularitas Tol Trans-Jawa sebagai jalur tercepat justru memicu konsentrasi kendaraan berlebihan di titik-titik tertentu, terutama di area istirahat.
Saat arus padat, rest area kerap menjadi titik penyumbat karena kapasitasnya dirancang untuk kondisi normal. Djoko mendorong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menambah fasilitas sanitasi secara signifikan, terutama toilet perempuan, serta menyiapkan rest area darurat berbasis kebutuhan dasar.
Ia juga menekankan pentingnya penyediaan tempat istirahat di luar gerbang tol untuk mencegah praktik berbahaya berhenti di bahu jalan. Informasi fasilitas tersebut diharapkan dapat terintegrasi secara real-time melalui aplikasi Travoy.
Selain itu, tren peningkatan kendaraan listrik perlu diantisipasi dengan penyediaan SPKLU di titik-titik strategis.
Terkait rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way) dan contraflow, Djoko meminta evaluasi menyeluruh, termasuk dampaknya terhadap operasional bus antarkota yang harus kembali cepat ke Jakarta untuk mengangkut gelombang pemudik berikutnya.
Belajar dari kecelakaan tragis di KM 58 pada mudik 2024, aspek keselamatan harus menjadi prioritas. Pembatas jalan perlu dipasang lebih rapat, serta didukung kesiagaan safety car, mobil derek, dan pemadam kebakaran di titik rawan.
“Kemacetan mungkin sulit dihindari saat Lebaran. Tapi keselamatan pemudik tidak boleh ditawar,” tegas Djoko.(ef)












