Sofifi,Cakrawala– Bus perintis masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat perdesaan dan pulau-pulau kecil di Provinsi Maluku Utara. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan mahalnya moda transportasi alternatif, bus perintis berperan sebagai satu-satunya angkutan murah yang menghubungkan desa terpencil dengan pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik.
Pada tahun 2026, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menetapkan 15 lintasan trayek angkutan jalan perintis di Maluku Utara dengan total jarak pulang-pergi mencapai 1.804 kilometer. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Dirjen Perhubungan Darat Nomor KP-DRJD 5188 Tahun 2025 tentang Penetapan Jaringan Trayek Angkutan Orang untuk Penyelenggaraan Angkutan Jalan Perintis Tahun 2026.
Trayek-trayek tersebut menjangkau Pulau Halmahera, Pulau Sula, Pulau Bacan, Pulau Morotai, hingga Pulau Tidore. Di Pulau Halmahera saja, terdapat 7 trayek yang dilayani 10 armada bus, sementara Pulau Sula, Bacan, dan Morotai masing-masing dilayani 2 trayek. Pulau Tidore mendapat 1 trayek dengan 1 armada bus.
Tak sekadar angkutan penumpang, bus perintis juga menjadi penggerak ekonomi rakyat. Di Halmahera Barat, bus perintis yang melayani lintasan Transgoal–Jailolo berangkat setiap hari usai Salat Subuh. Sedikitnya tujuh warga kawasan transmigrasi Goal rutin menggunakan bus ini untuk membawa hasil pertanian dan industri rumah tangga ke Pasar Tradisional Jailolo, pasar yang dibangun pada era Presiden Joko Widodo dan hingga kini terjaga rapi serta aktif.
Warga transmigrasi menjual sayur-mayur, buah-buahan, hingga tahu dan tempe, dengan omzet penjualan yang bisa mencapai Rp750 ribu per hari. Bus perintis juga mengangkut pelajar yang bersekolah di Kota Jailolo, lalu kembali pada siang hari untuk mengantar mereka pulang bersama para pedagang.
Dari sisi biaya, bus perintis terbukti jauh lebih terjangkau. Pelajar hanya membayar Rp10 ribu per hari (berangkat dan pulang), sementara pedagang dan penumpang umum membayar Rp30 ribu sekali jalan. Sebagai perbandingan, moda transportasi lain bisa mematok tarif hingga Rp50 ribu sekali jalan. Bahkan untuk angkutan barang, tarifnya hanya Rp10 ribu per koli.
Namun, di balik manfaat besarnya, masih terdapat sejumlah kendala. Kondisi jalan yang sempit dan belum ideal membuat penggunaan bus sedang kurang nyaman, sehingga microbus dinilai lebih sesuai. Persoalan lain adalah ketiadaan ruang bagasi khusus, yang memaksa hasil pertanian bercampur dengan penumpang dan berpotensi mengganggu kenyamanan serta keselamatan.
Untuk menyiasati hal itu, microbus dimodifikasi dengan mengubah kursi belakang agar ruang tengah dapat dimanfaatkan sebagai tempat barang. Meski bukan solusi ideal, langkah ini dianggap paling realistis mengingat kondisi jalan yang belum mendukung operasional bus berukuran lebih besar.
Di sisi transportasi laut, kapal besar PT Pelni memang singgah di wilayah Jailolo, namun tidak dapat bersandar di dermaga setempat. Pelabuhan Matui yang baru direnovasi pada 2023 sebenarnya memadai, tetapi akses jalan menuju Kota Jailolo masih sempit, berlubang, dan belum memenuhi standar. Padahal, jalur pesisir Matui–Sidangoli berpotensi menjadi akses alternatif yang lebih cepat sekaligus membuka isolasi wilayah pesisir.
Bus perintis juga berperan penting dalam mendukung kawasan transmigrasi, khususnya di Pulau Halmahera yang melayani enam kawasan transmigrasi aktif. Padahal, dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menargetkan pengembangan 45 kawasan transmigrasi nasional, dengan empat di antaranya berada di Maluku Utara.
Melihat peran strategis tersebut, pemerintah daerah didorong lebih jeli menangkap peluang ekonomi desa. Kehadiran layanan perbankan di kawasan perdesaan, penyediaan ruang khusus barang pada armada bus, serta bantuan bus sekolah dengan biaya operasional bersubsidi menjadi kebutuhan mendesak agar mobilitas warga, pelajar, dan pelaku usaha kecil semakin optimal.
Bus perintis membuktikan bahwa pembangunan transportasi tidak hanya soal konektivitas, tetapi juga tentang keberpihakan pada rakyat kecil di wilayah terluar Indonesia.(Ef)
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).













