Rel Layang Semarang–Pekalongan, Solusi Permanen Atasi Banjir Rob dan Kemacetan Pantura

Semarang,Cakrawala– Pembangunan rel layang (elevated railway) di Kota Semarang dan Kota Pekalongan bukan sekadar proyek infrastruktur estetis, melainkan kebutuhan strategis untuk mengatasi dua persoalan kronis di jalur Pantura Jawa: banjir rob dan kemacetan akibat perlintasan sebidang.

 

Di Kota Semarang, proyek rel layang sepanjang 7,4 kilometer dilengkapi dua stasiun layang utama, yakni Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Jalur rel di bawah (at grade) tetap dipertahankan untuk mendukung operasional kereta barang menuju Pelabuhan Tanjung Emas, konektivitas ke Container Yard Ronggowarsito, serta jalur utama logistik lintas Jakarta–Surabaya.

 

Pembangunan rel layang ini menjadi semakin mendesak seiring penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah pesisir Semarang yang terus berlangsung. Selama ini, jalur kereta api nasional di kawasan Kaligawe kerap lumpuh akibat genangan banjir rob. Dengan mengangkat jalur rel ke atas, perjalanan kereta api kini dapat berlangsung aman dan lancar tanpa harus memutar ke jalur selatan.

 

Sebagai urat nadi logistik Pulau Jawa, gangguan di jalur kereta api Semarang berdampak langsung pada stabilitas rantai pasok nasional. Upaya peninggian rel secara berkala oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan—rata-rata hanya sekitar 30 sentimeter—terbukti tidak lagi memadai dan hanya bersifat jangka pendek. Rel layang hadir sebagai solusi permanen, memisahkan infrastruktur kereta api sepenuhnya dari ancaman banjir laut dan penurunan tanah di masa depan.

 

Selain persoalan banjir, rel layang juga krusial untuk menghapus risiko kecelakaan dan kemacetan di perlintasan sebidang. Berdasarkan data Daop 4 Semarang PT KAI (2025), terdapat 13 titik perlintasan sebidang di Kota Semarang yang menjadi perhatian serius. Tujuh di antaranya dikelola langsung oleh PT KAI, antara lain di Jalan Bandara Jenderal Ahmad Yani, Empu Tantular, Kampung Sleko, Layur, Petek, Ronggowarsito, dan Kaligawe Raya.

Sementara itu, lima perlintasan tidak terjaga berada di Jalan Jembawan Raya, Stasiun Jrakah, Tegalrejo, Tanggungrejo Raya, dan Tenggang Raya, serta satu perlintasan tidak resmi atau swadaya masyarakat di kawasan Tlogosari.

 

*Pekalongan: Rel Layang untuk Bebaskan Pusat Kota dari Kemacetan.*

 

Berbeda dengan Semarang, jumlah perlintasan sebidang di Kota Pekalongan memang lebih sedikit. Namun dampaknya justru lebih fatal karena jalur kereta api membelah langsung pusat aktivitas kota.

 

Selain sebagai langkah mitigasi banjir yang kerap melanda wilayah ini, pembangunan rel layang di Pekalongan memiliki urgensi besar untuk mengurai kemacetan di jantung kota. Tantangan utama di Pekalongan bukan hanya genangan, tetapi tingginya frekuensi perjalanan kereta api pada jalur ganda (double track) yang memotong jalan-jalan protokol secara langsung.

 

Titik paling krusial berada di JPL 112 Jalan KH Mas Mansyur. Sebagai jalur utama kendaraan besar dan arus lalu lintas kota, perlintasan ini dapat tertutup puluhan kali dalam sehari. Akibatnya, antrean kendaraan kerap mengular panjang, melumpuhkan aktivitas ekonomi, bahkan menghambat akses layanan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran.

 

Kepadatan serupa juga kerap terjadi di Jalan Bendan dan kawasan Tirto. Kehadiran rel layang akan menghapus hambatan di titik-titik kritis tersebut secara permanen. Dengan demikian, arus lalu lintas dari sisi utara ke selatan kota, maupun sebaliknya, dapat mengalir lancar tanpa lagi terinterupsi oleh padatnya jadwal perjalanan kereta api.

 

“Rel layang adalah solusi struktural jangka panjang, baik untuk menghadapi banjir rob maupun untuk mengakhiri konflik lalu lintas di perlintasan sebidang. Ini bukan sekadar proyek transportasi, tetapi investasi keselamatan dan keberlanjutan kota.(Ef)

 

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).