Jakarta,Cakrawala-Dua pekan menjelang Ramadhan, mobilitas masyarakat antarkota mulai menunjukkan peningkatan. Terminal bus, ruas jalan nasional, hingga jalan tol kembali ramai, meski belum memasuki masa mudik Lebaran. Pergerakan ini kerap luput dari perhatian publik dan kebijakan, padahal terjadi secara rutin setiap tahun.
Pengamat transportasi, Muhamad Akbar, menilai lonjakan perjalanan pra-Ramadhan sebagian besar dipicu tradisi ziarah ke makam orang tua, terutama oleh warga perantau. “Ini bukan perjalanan rekreasi atau ekonomi, melainkan perjalanan ritual yang dilakukan secara sadar menjelang Ramadhan,” ujarnya.
Menurut Akbar, mobilitas ziarah pra-Ramadhan bersifat sunyi namun konsisten. Tidak ada euforia mudik, tidak ada pengumuman resmi pemerintah, tetapi tekanan terhadap layanan transportasi antarkota tetap terasa, mulai dari keterbatasan kursi hingga kenaikan harga tiket.
Ironisnya, pola perjalanan tahunan ini belum masuk dalam skema pengelolaan transportasi musiman. Pemerintah dinilai masih fokus pada pengaturan arus mudik Lebaran, sementara mobilitas pra-Ramadhan dibiarkan berjalan tanpa antisipasi yang jelas.
“Padahal polanya bisa diprediksi. Tujuannya spesifik dan terjadi setiap tahun. Seharusnya ada penyesuaian kapasitas sementara, imbauan perjalanan, serta penguatan layanan informasi,” kata Akbar.
Ia menyebut fenomena ini sebagai mobilitas ritual, yakni pergerakan masyarakat yang dipicu oleh praktik sosial-keagamaan, bukan oleh kepentingan ekonomi atau pariwisata. Dengan karakter tersebut, mobilitas pra-Ramadhan semestinya diakui dan dikelola sebagai bagian dari kebijakan transportasi tahunan.
Akbar menegaskan, tanpa antisipasi dini, pengelolaan transportasi akan terus bersifat reaktif. “Negara baru hadir ketika kepadatan sudah terjadi. Padahal transportasi publik juga menopang kebutuhan batin masyarakat, bukan sekadar perpindahan fisik,” pungkasnya.(Ef)













