IWO Sumenep Gelar Seminar Etika Jurnalistik di Era AI: Keaslian Tetap Kunci Utama

SUMENEP,MN Cakrawala – Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sumenep menggelar seminar publik bertajuk “Relevansi Etika Jurnalistik di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan (AI)”, yang berlangsung di Graha Kemahasiswaan Universitas PGRI Sumenep, Selasa (28/10/2026).

 

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan anggota IWO, praktisi media, pemerhati komunikasi, mahasiswa, serta para tokoh yang berkompeten di bidangnya di Kabupaten Sumenep. Kehadiran para narasumber dalam seminar tersebut diharapkan dapat memperkuat komitmen para peserta untuk senantiasa menyajikan informasi yang akurat, benar, dan dapat dipertanggung jawabkan.

 

Turut hadir sebagai narasumber:

 

– Perwakilan Pemerintah Kabupaten Sumenep

– Wartawan Senior, Bapak Ibnu Hajar

– Rektor UPI Asmuni di wakili Rektor II Ridwan

 

Dalam sambutannya, Rektor Universitas PGRI ( UPI ) Sumenep menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan media dalam menjaga kualitas informasi yang beredar di masyarakat.

 

“Mahasiswa dan masyarakat sangat membutuhkan informasi yang jelas dan benar. Peran wartawan semakin penting di tengah banjir informasi yang terjadi saat ini,” ujarnya.

 

Sementara itu, Wartawan Senior, Bapak Ibnu Hajar, mengingatkan para jurnalis untuk tidak menyerahkan sepenuhnya pekerjaan jurnalistik kepada teknologi kecerdasan buatan.

 

“AI bisa menulis lebih cepat, tetapi AI tidak memiliki empati, serta tidak memahami konteks sosial masyarakat kita secara mendalam. Kejujuran dan kepekaan nurani seorang jurnalis tidak bisa digantikan oleh mesin,” tegasnya.

 

Perwakilan Pemkab Sumenep juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif IWO Sumenep mengangkat isu yang sangat relevan di tengah perkembangan teknologi saat ini.

 

Ketua DPC IWO Sumenep, Imam Musta’in, dalam arahannya menyampaikan harapannya.

 

“Saya berharap media di daerah ini senantiasa menjadi mitra pembangunan yang konstruktif, sekaligus tetap menjaga prinsip kebenaran dan akurasi dalam setiap pemberitaan,” ucap Imam.

 

Hasil dan Harapan Kegiatan

 

Seluruh peserta sepakat bahwa kehadiran AI memang memudahkan pekerjaan, namun prinsip etika jurnalistik — kebenaran, akurasi, verifikasi fakta, dan tanggung jawab kepada publik — harus tetap menjadi kompas utama. AI adalah alat bantu, bukan pengganti peran seorang jurnalis.

 

Imam Musta’in juga menegaskan komitmen organisasi ke depannya.

 

“Dengan adanya seminar ini, saya tegaskan komitmen organisasi untuk terus membina para anggotanya agar tetap profesional dan dipercaya oleh masyarakat, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat,” tegas Imam.

 

Lebih lanjut ia menambahkan, kegiatan seperti ini sengaja digelar agar para peserta, khususnya para jurnalis, semakin cerdas dalam menyaring informasi. “Sehingga tulisan atau narasi yang disajikan tetap terarah dan sesuai dengan fakta di lapangan,” pungkasnya. ( Aj )