Bondowoso,MN Cakrawala– Komitmen membangun ketahanan pangan nasional berbasis inovasi dan pertanian organik kembali ditegaskan melalui kunjungan kerja Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso,Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, aparat keamanan, serta kelompok tani dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan melalui pertanian organik.senin (20/7/2026)
Kunjungan yang dihadiri sekitar 100 peserta itu juga diikuti Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid, Wakil Bupati As’ad Yahya Syafi’i, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Nazaruddin Malik, Kepala BBPOPT Kementan RI Yuris Triyanto, Kapolres Bondowoso AKBP Dr. Aryo Dwi Wibowo, Kajari Bondowoso David Palapa Duarsa, Kasdim 0822/Bondowoso Mayor Teguh, jajaran Forkopimcam, perangkat daerah, penyuluh pertanian, hingga para petani. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembangunan sektor pangan tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan produk UMKM Desa Lombok Kulon, dilanjutkan tanam perdana padi organik bersama Gapoktan Al Barokah, pelepasan pengiriman beras organik menuju Kalimantan dan Papua, hingga peninjauan fasilitas produksi beras organik. Momen tersebut memperlihatkan bahwa pertanian organik Bondowoso tidak hanya berhasil meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga mampu menembus pasar luar daerah sebagai produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi.
Dalam sambutannya, Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa pengembangan pertanian organik di Desa Lombok Kulon, Desa Sulek, dan Desa Gading Sari merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Ia juga menyampaikan bahwa pengakuan Indikasi Geografis Beras Sintanur Lembah Raung menjadi bukti kualitas produk pertanian Bondowoso yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, inovasi pertanian harus terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan masa depan.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menjelaskan bahwa Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) merupakan implementasi nyata konsep Kampus Berdampak. Melalui program tersebut, para profesor tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga turun langsung mendampingi masyarakat, menghadirkan teknologi tepat guna, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, hingga membantu pemasaran produk. Pendampingan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu mengantarkan Bondowoso ditetapkan sebagai percontohan nasional pertanian organik.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek RI, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, menegaskan bahwa hasil riset perguruan tinggi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pertanian organik merupakan solusi strategis menghadapi krisis iklim sekaligus menjamin ketersediaan pangan sehat. Melalui Program SEMESTA yang didukung pendanaan LPDP, pemerintah akan terus mendorong hilirisasi hasil penelitian agar dapat diterapkan secara luas oleh pemerintah daerah maupun gabungan kelompok tani di seluruh Indonesia.
Kehadiran unsur Forkopimda, TNI-Polri, pemerintah daerah, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani dalam kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya sinergi lintas sektoral dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Dukungan berbagai pihak menjadi modal penting agar inovasi pertanian organik terus berkembang, meningkatkan produktivitas petani, memperkuat ekonomi desa, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam sebagai fondasi ketahanan pangan Indonesia.(22/red)












