Jakarta,MN Cakrawala – Pelantikan itu mungkin hanya berlangsung hitungan menit. Tapi beban yang kini dipikul I Dewa Gede Wirajana bisa bertahan bertahun-tahun—dan sorotan publik tidak akan pernah padam.
Dilantik langsung oleh ST Burhanuddin di Aula Lantai 11 Kejaksaan Agung Republik Indonesia, pergantian pucuk pimpinan Kejaksaan Tinggi Riau ini bukan sekadar seremoni rutin. Ini adalah titik awal dari ujian besar: apakah penegakan hukum di Riau akan benar-benar berubah, atau hanya berganti wajah tanpa arah baru.
Riau bukan wilayah tanpa beban. Kompleksitas perkara, tarik-menarik kepentingan, hingga derasnya arus informasi di era digital menuntut lebih dari sekadar kemampuan administratif. Dibutuhkan keberanian, ketegasan, dan yang paling penting—integritas.
Dalam sambutannya, ST Burhanuddin menegaskan bahwa rotasi jabatan adalah janji, bukan hadiah. Janji kepada Tuhan, negara, dan masyarakat. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Hingga April 2026, masih ada aparatur yang tersandung pelanggaran disiplin. Sebuah sinyal keras bahwa persoalan internal belum sepenuhnya selesai.
Pesannya jelas: tidak ada toleransi bagi aparat yang mencederai integritas. Tidak ada ruang bagi promosi bagi mereka yang pernah melanggar. Artinya, bersih-bersih internal bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.
Di sisi lain, tantangan baru juga datang dari ruang digital. Jaksa Agung mengingatkan pentingnya penguasaan narasi berbasis data untuk melawan disinformasi. Ini menandakan bahwa pertarungan penegakan hukum hari ini tidak hanya terjadi di ruang sidang, tapi juga di ruang publik—di mana persepsi bisa dibentuk, bahkan dipelintir.
Bagi I Dewa Gede Wirajana, yang sebelumnya menjabat sebagai Kajati Gorontalo, Riau adalah panggung yang lebih kompleks dan lebih disorot. Menggantikan pejabat sebelumnya bukan sekadar melanjutkan, tapi menentukan arah baru.
Kini publik menunggu, bukan janji, Tapi bukti, Apakah kepemimpinan baru di Kejaksaan Tinggi Riau akan benar-benar menghadirkan penegakan hukum yang tegas dan berintegritas? Atau justru kembali terjebak dalam pola lama yang selama ini menjadi sorotan?
Waktu akan menjawab. Tapi satu hal pasti—mata publik tidak akan pernah lepas dari setiap langkah yang diambil.(EF)












