Jakarta,MN Cakrawala – Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menegaskan bahwa persoalan ojek online (ojol) di Indonesia tidak bisa terus diselesaikan dengan pendekatan populis. Justru, solusi rasional yang berdampak luas adalah mengurangi jumlah pengemudi ojol secara bertahap dan terencana.
Menurutnya, selama jumlah pengemudi terus membengkak tanpa kendali, maka kesejahteraan tidak akan pernah tercapai. Hal ini karena sejak awal, profesi pengemudi ojol bukan dirancang sebagai pekerjaan utama jangka panjang, melainkan sebagai pekerjaan tambahan (gig economy).
“Kalau orientasinya kesejahteraan, maka jawabannya bukan menaikkan tarif atau insentif semata, tetapi mengendalikan jumlah pelaku di dalamnya,” tegas Djoko.
Ia juga menyoroti peran negara. Pemerintah, kata Djoko, memiliki kewajiban konstitusional untuk menyediakan lapangan kerja yang layak dan berkelanjutan, bukan membiarkan masyarakat menggantungkan hidup pada sektor informal yang rentan seperti ojol.
Karena itu, diperlukan roadmap nasional yang terukur, misalnya dalam lima tahun ke depan:
* Berapa persen pengurangan jumlah driver
* Skema alih profesi yang jelas
* Penguatan fungsi ojol sebagai layanan logistik/kurir, bukan angkutan penumpang
Dari sisi konsumen, Djoko menilai penggunaan ojol sebagai transportasi penumpang juga menyimpan persoalan serius. Aspek keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan dinilai sulit dipenuhi jika tetap dipaksakan sebagai moda transportasi massal.
“Ojol bukan didesain sebagai angkutan publik. Selama ini dipaksakan karena kebutuhan, bukan karena kelayakan sistem,” ujarnya.
Kesimpulannya, pengurangan ojol memang bukan kebijakan populer. Namun tanpa langkah berani ini, Indonesia akan terus menghadapi over-supply pengemudi, pendapatan yang makin tergerus, serta sistem transportasi yang tidak sehat.(Ef)












