Jakarta,MN Cakrawala– Reaktivasi jalur kereta api bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali sistem transportasi nasional yang selama ini terlalu bertumpu pada jalan raya. Upaya ini menjadi kunci dalam membuka akses wilayah, merajut konektivitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kewilayahan.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tahun 2026, total panjang jaringan rel di Indonesia mencapai 9.178 kilometer. Namun, dari angka tersebut, hanya 6.945 kilometer yang aktif beroperasi, sementara 2.233 kilometer lainnya merupakan jalur non-aktif yang terbengkalai dan belum dimanfaatkan secara optimal. Inilah ruang strategis yang harus segera dihidupkan kembali.
Di Pulau Jawa dan Sumatera, jaringan rel telah menjadi tulang punggung transportasi massal. Jawa memiliki jalur aktif sepanjang 4.921 kilometer dengan ratusan stasiun dan ribuan sarana kereta, sementara Sumatera mencapai 1.871 kilometer. Namun di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Papua, pembangunan rel masih terbatas dan belum menyentuh layanan penumpang secara luas. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pemerataan akses transportasi masih menjadi pekerjaan besar negara.
Program reaktivasi jalur non-aktif menjadi solusi konkret. Di Jawa, sejumlah koridor seperti Bandung–Ciwidey, Garut–Cikajang, hingga Yogyakarta–Magelang–Ambarawa memiliki potensi besar untuk mendukung mobilitas regional, logistik, dan pariwisata. Sementara di Sumatera, jalur seperti Padang Panjang–Bukittinggi hingga Sawahlunto menyimpan nilai ekonomi dan sejarah yang belum tergarap maksimal.
Reaktivasi ini memiliki dampak berlapis.
Pertama, membuka akses dan meningkatkan mobilitas masyarakat, terutama di daerah yang selama ini terisolasi atau bergantung pada transportasi darat yang mahal dan tidak efisien.
Kedua, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Jalur kereta akan menghidupkan kembali simpul-simpul ekonomi baru di sekitar stasiun, memperkuat distribusi logistik, serta menekan biaya angkut barang yang selama ini membebani jalan raya.
Ketiga, mengangkat sektor pariwisata. Jalur rel yang melintasi kawasan eksotis bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata berbasis pengalaman.
Keempat, mengurangi beban jalan raya. Peralihan angkutan barang dari truk ke kereta api akan menekan kemacetan, mengurangi kerusakan jalan, serta meningkatkan keselamatan lalu lintas—isu krusial di tengah maraknya kendaraan over dimension over load (ODOL).
Kelima, mengoptimalkan aset negara. Jalur rel dan stasiun yang terbengkalai dapat dihidupkan kembali menjadi infrastruktur produktif yang memberi nilai ekonomi.
Keenam, mendukung pengembangan wilayah berbasis integrasi antarmoda dan konsep Transit-Oriented Development (TOD), yang mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Pada akhirnya, reaktivasi jalur rel adalah tentang menghadirkan keadilan akses. Ini bukan hanya soal transportasi, tetapi tentang bagaimana negara memastikan setiap wilayah memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan terhubung.
Kereta api bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah masa depan yang pernah kita tinggalkan dan kini saatnya dihidupkan kembali.
Sumber: Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat MTI.
Pewarta: Ef












