Viral Sekolah Berdinding Triplek di Kampar, Guru Malah Dipanggil Pejabat: Menunggu Viral Baru Tahu?

KAMPAR,MN Cakrawala – Bukannya langsung mendapat perhatian dan solusi, aksi jujur seorang guru yang mengungkap kondisi ruang belajar berdinding triplek di Kabupaten Kampar justru berujung pemanggilan oleh pejabat setempat.

 

Guru tersebut, Rohmawati, sebelumnya membuat video yang memperlihatkan kondisi ruang kelas jarak jauh SD 007 Sungai Agung yang berdinding triplek. Video itu kemudian viral di media sosial dan memicu sorotan publik terhadap kondisi sarana pendidikan di wilayah tersebut.

 

Namun, alih-alih persoalan fasilitas belajar itu yang menjadi prioritas, Rohmawati justru diminta memberikan klarifikasi kepada pejabat setempat setelah videonya menimbulkan kegaduhan di media sosial.

 

Ironisnya, persoalan tersebut bukan baru muncul setelah video beredar. Rohmawati sejak awal telah menjelaskan bahwa bangunan berdinding triplek itu merupakan ruang kelas jarak jauh SD 007 Sungai Agung dan penyampaian kondisi tersebut dilakukan dengan harapan adanya perhatian terhadap kebutuhan fasilitas belajar para siswa.

 

Yang lebih menggelitik, pejabat setempat disebut baru mengetahui keberadaan ruang belajar berdinding triplek tersebut setelah video Rohmawati viral.

 

Jika benar demikian, muncul pertanyaan sederhana: selama ini siapa yang seharusnya mengetahui kondisi sekolah dan fasilitas pendidikan di wilayah tersebut?

 

Sebab, kondisi sebuah ruang belajar yang digunakan anak-anak untuk menuntut ilmu semestinya bukan sesuatu yang baru diketahui setelah menjadi tontonan publik.

 

Kasus ini pun memunculkan ironi. Ketika guru menyuarakan kondisi di lapangan, yang datang justru panggilan klarifikasi. Sementara kondisi bangunan yang dipersoalkan baru mendapat perhatian setelah viral.

 

Publik tentu berhak mempertanyakan, apakah suara seorang guru harus terlebih dahulu menjadi viral agar kondisi sekolah yang memprihatinkan baru dianggap penting oleh pemerintah daerah?

 

Apalagi jika tujuan Rohmawati memang untuk memperjuangkan fasilitas belajar yang lebih layak bagi murid-muridnya.

 

Jangan sampai pemerintah baru “tahu” setelah rakyat bicara di media sosial, dan baru bergerak setelah kamera menyala.

 

Kini, yang ditunggu bukan sekadar klarifikasi dari sang guru, melainkan langkah konkret pemerintah daerah memperbaiki kondisi ruang belajar tersebut.

 

Sebab, persoalannya bukan siapa yang membuat video.

Persoalannya adalah: mengapa ruang belajar berdinding triplek bisa ada, digunakan siswa, dan baru diketahui pejabat setelah viral.(Ef)