MN CAKRAWALA, PASURUAN – warga banyak kecewa Dusun Tulaksono, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Janji manis pembangunan yang digembar-gemborkan oleh Okum perangkat desa.
Masyarakat menilai sekadar wacana yang diciptakan untuk menenangkan rakyat. Lihat saja proyek penyediaan air bersih yang katanya dipersembahkan untuk kesejahteraan warga: Tandon besar sudah berdiri gagah, meteran air pun sudah terpasang rapi di rumah rumah warga Tapi tak setetes pun air mengalir ke rumah-rumah warga! Fasilitas yang dibangun menggunakan uang rakyat ini hanya menjadi hiasan bisu, saksi mata dari kegagalan dan perencanaan yang kurang tepat dari penguasa desa.
Sungguh menyakitkan hati, warga sudah lama menunggu, berharap bisa menikmati hasil pembangunan layak seperti daerah lain. Namun harapan itu kini hancur berkeping-keping. Mereka merasa benar-benar dianaktirikan, seolah keberadaan mereka tidak dianggap penting di peta pembangunan Desa Palangsari. Rasanya ingin bertanya, untuk siapa sebenarnya pembangunan itu dibuat? Apakah hanya untuk kepentingan segelintir orang yang berkuasa?
Guna menguak kebenaran dan mendapatkan penjelasan dari masyarakat,tim mendatangi langsung kediaman YNT, selaku Pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Palangsari. Sebagai lembaga pengawas, ia seharusnya menjadi orang paling tahu dan paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi di wilayahnya.
Namun apa yang terjadi saat kami tiba di lokasi? Pihak keluarga memberikan alasan yang sangat mendramatisir: dikatakan bahwa Bapak YNT sedang keluar rumah untuk mengaji dan keperluan lain, sehingga tidak bisa ditemui. Jawaban yang terdengar alim dan mulia, bukan? Tapi sayangnya, dusta itu tak bisa menutupi kenyataan yang ada di depan mata.
Beberapa awak media yang hadir di lokasi melihat dengan sangat jelas sosok berinisial YNT itu masih berada di dalam rumah. Bahkan, ia terlihat berdiri tepat di balik celah pintu, mengintip diam-diam ke arah kedatangan kami. Ia ada di sana, mendengar segalanya, melihat segalanya, tapi sengaja bersembunyi dan berbohong dengan alasan yang tak masuk akal. Mengapa harus lari? Mengapa harus bersembunyi Jika apa yang dikerjakan sudah benar.
Jika tidak ada yang disembunyikan, seharusnya ia berani tampil, menjawab pertanyaan, dan memberikan penjelasan. Sikapnya yang menolak bertemu ini justru menjadi tanda tanya besar seakan ada sesuatu yang keliru dan ditutupi.
Karena sudah tak tahan lagi dipermainkan dan diabaikan, warga Dusun Tulaksono akhirnya angkat bicara meluapkan segala kekecewaan yang sudah lama terpendam di dada mereka. Dengan suara gemetar menahan amarah dan mata berkaca-kaca, mereka membuka tabir gelap ketimpangan pembangunan yang terjadi di desa mereka.
“Coba lihat dan bandingkan sendiri, Pak! Jalan yang setiap hari dilewati oleh anak-anak kami untuk berangkat sekolah dan menjadi akses utama seluruh warga kondisinya rusak parah, berlubang, becek saat hujan dan berdebu saat kemarau. Tak pernah disentuh perbaikan sedikit pun. Tapi coba lihat jalan yang menuju ke ladang milik Kepala Desa: Jalannya mulus, rapi, dan sudah dipavingisasi sebagus mungkin.
Mengapa pembangunan hanya diarahkan untuk memuluskan jalan ke tanah milik pejabat, sementara jalan rakyat dibiarkan rusak tak terurus? Apakah anak sekolah dan warga sini bukan warga desa yang sana,seru salah seorang warga dengan nada kecewa.
Kepahitan warga tak berhenti sampai di situ. Masalah kelistrikan pun menjadi bukti nyata betapa mereka merasa diabaikan oleh pemerintah desa,Menurut penuturan warga, pemasangan jaringan listrik PLN yang kini mereka nikmati adalah hasil kerja keras dan keringat mereka sendiri, murni dari swadaya masyarakat. Pemerintah desa sama sekali tidak ikut campur tangan, tidak memberikan bantuan, tidak menyisihkan anggaran sepeser pun untuk kebutuhan dasar ini. Semuanya ditanggung oleh kemampuan rakyat miskin yang ingin maju.
“Kami membayar sendiri, kami bekerja sendiri, kami mengurus semuanya sendiri. Di mana peran pemerintah desa saat kami berjuang menerangi kampung kami? Tidak ada! Tapi saat urusan kepentingan pribadi atau golongan, dana desa bisa dikeluarkan dengan mudahnya. Kami benar-benar merasa dianaktirikan, seolah kami warga kelas dua yang hak-haknya boleh diinjak-injak sembarangan,” tambah warga lainnya.
Berbagai fakta pahit ini semakin menguatkan dugaan bahwa pembangunan di Desa Palangsari tidak berjalan merara Ada kecurigaan kuat bahwa anggaran dan perhatian pemerintah desa hanya diarahkan untuk kepentingan tertentu saja, mengabaikan hajat hidup orang banyak yang sebenarnya menjadi prioritas utama.
Terhadap semua ketimpangan dan ketidakadilan ini, pihak redaksi media teropong timur news telah mengirimkan surat permintaan klarifikasi resmi kepada Saudara YNT selaku BPD Palangsari tertanggal 4 Mei 2026 dengan nomor surat: 012/TIN-JTM/V/2026. Kami menuntut jawaban yang jujur, tegas, dan bertanggung jawab atas seluruh permasalahan yang mengganggu hati nurani publik.
Kami memberi waktu paling lambat 2 x 24 jam sejak surat diterima untuk memberikan tanggapan. Jangan lagi bersembunyi di balik pintu, jangan lagi berbohong dengan alasan sedang mengaji atau hal lainnya.

Waktu untuk bersikap dan menjelaskan kepada masyarakat dan rakyat sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kebenaran harus diungkap, dan tanggung jawab harus dipikul oleh siapa saja yang berbuat salah, tidak peduli apa pun jabatannya.Ingatlah, jabatan itu amanah, kekuasaan itu sementara,Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan keadilan pasti akan ditegakkan. Kami akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. bersambung .(tim/Supriyadi)












