PEKANBARU,MN Cakrawala — Pembangunan Drainase Jalan Dharma Bakti, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, dengan nilai kontrak mencapai Rp5.834.365.660, mulai menuai sorotan.
Proyek yang berada di bawah kegiatan Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Drainase yang Terhubung Langsung dengan Sungai dalam Daerah Kabupaten/Kota tersebut dikerjakan oleh CV Sunrise Khatulistiwa, dengan CV Aulia Rancang Atur Buana sebagai konsultan pengawas.
Dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender dan nilai pekerjaan mencapai Rp5,83 miliar, proyek ini tentu diharapkan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga mampu menjalankan fungsi utamanya: mengendalikan dan mengalirkan air sehingga persoalan genangan di kawasan Jalan Dharma Bakti dapat diminimalkan.
Namun, pantauan di lokasi pada Sabtu, 12 September 2026, justru memperlihatkan sejumlah kondisi pekerjaan yang memunculkan pertanyaan.
Pada salah satu titik, dinding atau struktur drainase yang telah dibangun terlihat lebih tinggi dibandingkan permukaan aspal jalan. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana limpasan air dari badan jalan nantinya dapat masuk ke dalam saluran apabila elevasi akhir jalan dan sistem inlet tidak dirancang secara tepat.
Tak hanya itu, trase saluran pada beberapa bagian terlihat tidak sepenuhnya lurus, sementara galian di sepanjang saluran tampak memiliki kondisi yang berbeda-beda, dengan bagian tertentu terlihat lebih dalam dan bagian lainnya lebih dangkal.
Di lokasi juga terlihat genangan air berada di antara bagian drainase yang telah dicor dengan bagian saluran yang belum selesai, sementara material pekerjaan, tanah dan sisa bongkaran masih berserakan di sekitar area proyek.
Kondisi tersebut memang belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa pekerjaan telah menyimpang dari kontrak, mengingat proyek masih dalam tahap pelaksanaan.
Namun, secara kasatmata kondisi itu cukup menjadi alasan bagi publik untuk meminta penjelasan teknis dari pihak yang bertanggung jawab.
Rp5,83 Miliar, Apakah Drainase Benar-Benar Akan Berfungsi?
Pertanyaan mendasarnya sederhana.
Apakah seluruh konstruksi yang sedang dibangun tersebut telah sesuai dengan gambar kerja, spesifikasi teknis, elevasi dan desain sistem drainase yang ditetapkan dalam kontrak?
Sebab, pembangunan drainase bukan sekadar persoalan menggali tanah dan membuat konstruksi beton.
Dimensi saluran, kemiringan dasar saluran, elevasi, posisi inlet, hubungan dengan permukaan jalan hingga titik pembuangan harus menjadi satu kesatuan sistem agar air dapat mengalir sebagaimana yang direncanakan.
Jika salah satu bagian tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka fungsi drainase berpotensi tidak optimal.
Karena itu, kondisi dinding saluran yang tampak lebih tinggi dari permukaan jalan menjadi salah satu hal yang perlu dijelaskan secara teknis.
Apakah itu memang elevasi yang direncanakan dalam gambar kerja, ataukah nantinya masih akan disesuaikan setelah pekerjaan jalan dan permukaan akhir selesai?
Begitu pula dengan galian yang terlihat tidak seragam.
Apakah perbedaan kedalaman tersebut merupakan bagian dari desain elevasi dan kemiringan saluran, atau terdapat pekerjaan yang belum mencapai elevasi rencana?
Jawaban atas pertanyaan tersebut penting karena masyarakat bukan hanya membutuhkan saluran yang terlihat selesai, tetapi membutuhkan saluran yang benar-benar berfungsi ketika hujan turun.
Warga Khawatir Genangan Tetap Menghantui
Sejumlah warga yang melihat proses pembangunan tersebut mengaku berharap proyek bernilai miliaran rupiah itu benar-benar menyelesaikan persoalan drainase di kawasan Jalan Dharma Bakti.
Masyarakat tentu tidak ingin setelah pekerjaan selesai, persoalan genangan masih terjadi setiap kali hujan deras.
Kekhawatiran itu muncul karena kondisi pelaksanaan yang terlihat saat ini dinilai belum memberikan gambaran yang meyakinkan mengenai hasil akhir pekerjaan.
Jangan sampai proyeknya selesai, tetapi genangannya tetap ada.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan drainase seharusnya bukan hanya berapa persen konstruksi telah dikerjakan, melainkan seberapa efektif sistem tersebut mengalirkan air dan menyelesaikan persoalan yang menjadi alasan proyek itu dibangun.
Konsultan Pengawas Ikut Dipertanyakan
Dengan nilai kontrak mencapai Rp5,83 miliar, keberadaan konsultan pengawas juga menjadi bagian penting dalam memastikan pekerjaan kontraktor sesuai dengan dokumen kontrak.
Karena itu, CV Aulia Rancang Atur Buana selaku konsultan pengawas patut dimintai penjelasan mengenai kondisi pekerjaan yang terlihat di lapangan.
Begitu pula dengan Dinas PUPR Kota Pekanbaru sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut.
Beberapa pertanyaan yang layak dijawab antara lain:
* Apakah trase saluran yang terlihat tidak lurus telah sesuai gambar kerja?
* Apakah perbedaan kedalaman galian memang sesuai desain elevasi?
* Apakah elevasi dinding dan penutup saluran telah disesuaikan dengan elevasi akhir permukaan jalan?
* Bagaimana sistem inlet memastikan air dari badan jalan dapat masuk ke saluran?
Dan jika terdapat perubahan terhadap desain atau spesifikasi:
Apakah perubahan tersebut telah mendapatkan persetujuan teknis dan dituangkan dalam dokumen kontrak atau addendum sebagaimana mestinya?
Jangan Sampai yang Selesai Hanya Proyeknya
Proyek Drainase Jalan Dharma Bakti memiliki nomor kontrak 01.03/SP PEMB DRA-DB/PUPR-SDA/VI/2026, dengan nilai Rp5.834.365.660 dan waktu pelaksanaan 180 hari kalender.
Anggaran sebesar itu tentu harus menghasilkan infrastruktur yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Publik berhak mengetahui apakah setiap rupiah yang dibayarkan benar-benar menghasilkan pekerjaan sesuai volume, mutu, spesifikasi dan fungsi yang telah ditetapkan.
Jangan sampai yang selesai hanya konstruksinya, sementara persoalan genangan tetap menjadi masalah warga.
Karena pada akhirnya, Rp5,83 miliar bukan sekadar angka dalam papan proyek. Itu adalah uang publik yang harus dipertanggungjawabkan melalui infrastruktur yang benar-benar berfungsi.
Hingga berita ini ditulis, pihak Dinas PUPR Kota Pekanbaru, CV Sunrise Khatulistiwa selaku kontraktor pelaksana maupun CV Aulia Rancang Atur Buana selaku konsultan pengawas belum memberikan penjelasan terkait kondisi pekerjaan yang menjadi sorotan tersebut.
Redaksi sangat terbuka untuk hak jawab dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.(Ef)












