Indonesia Darurat Keselamatan Transportasi Jalan

Jakarta,MN Cakrawala – Tragedi maut bus ALS dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, yang menewaskan 18 orang kembali menjadi alarm keras bahwa keselamatan transportasi jalan di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Kecelakaan demi kecelakaan terus berulang dengan pola serupa: lemahnya pengawasan, faktor manusia, hingga sistem keselamatan yang belum berjalan optimal.

 

Akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kecelakaan lalu lintas tidak boleh lagi dipandang sekadar musibah, melainkan sebagai kegagalan sistem keselamatan transportasi yang perlu dibenahi secara menyeluruh.

 

Menurutnya, investigasi kecelakaan harus menyentuh seluruh aspek, mulai dari manusia, kendaraan, manajemen perusahaan angkutan, hingga kondisi infrastruktur jalan. Karena itu, pemerintah didorong memperkuat lembaga keselamatan transportasi serta memastikan anggaran keselamatan tidak dikorbankan atas nama efisiensi.

 

“Evaluasi pascakecelakaan tidak boleh berhenti mencari penyebab, tetapi harus melahirkan langkah pencegahan agar tragedi yang sama tidak terulang,” ujarnya.

 

Djoko juga menekankan pentingnya penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK-PAU) secara nyata, bukan sekadar formalitas administrasi. Pengawasan jam kerja sopir, pemeriksaan kendaraan sebelum operasi, hingga peningkatan kompetensi pengemudi harus menjadi standar wajib bagi seluruh operator angkutan umum.

 

Ia menambahkan, negara-negara maju berhasil menekan angka kecelakaan karena membangun budaya keselamatan sejak dini, memperketat pengawasan berbasis teknologi, serta menyediakan transportasi umum yang aman dan terintegrasi.

 

“Keselamatan jalan tidak boleh kalah oleh efisiensi anggaran. Sebab setiap kelalaian pada akhirnya dibayar dengan nyawa manusia,” tegasnya.(EF)