PEKANBARU,MN Cakrawala – Sidang dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid, Rabu (3/6/2026), berubah menjadi arena adu argumentasi antara dua tokoh yang pernah berpasangan memenangkan Pilgub Riau 2024.
Untuk pertama kalinya sejak operasi tangkap tangan KPK, Abdul Wahid dan Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto berhadapan langsung di ruang sidang. Yang terjadi bukan sekadar pemeriksaan saksi, tetapi juga terbukanya berbagai persoalan politik dan hubungan pribadi yang selama ini menjadi perbincangan di luar ruang kekuasaan.
Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan menyinggung proses pencalonan dirinya sebagai gubernur.
“Waktu saya ingin menjadi gubernur, menggebu-gebu nggak saya menjadi gubernur?” tanya Abdul Wahid.
Jawaban SF Hariyanto langsung memancing gelak tawa para pengunjung sidang.
“Kalau nafsunya tentu bapaklah yang tahu nafsu bapak,” jawab SF Hariyanto.
Suasana ruang sidang seketika mencair. Namun percakapan berikutnya justru mengarah pada hubungan politik keduanya saat Pilgub berlangsung.
“Artinya bapak yang meminta saya maju?” tanya Abdul Wahid lagi.
“Kalau meminta kan wajar-wajar saja dong,” jawab SF.
“Tidak ada maksud lain di balik itu?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada ya? Terima kasih pak yaa,” balas Abdul Wahid.
Percakapan kemudian bergeser ke hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau.
Abdul Wahid menyinggung isu yang pernah berkembang bahwa SF Hariyanto enggan dipanggil sebagai wakil gubernur.
“Sangat mulia hati bapak ya?” sindir Abdul Wahid.
SF Hariyanto menjawab santai.
“Saya tidak pernah enggan. Jabatan itu bagi saya, sudah rasakan semua pak. Gubernur sudah, Sekda sudah, semuanya sudah saya rasakan.”
Abdul Wahid kembali melontarkan kalimat yang memancing perhatian ruang sidang.
“Memang orang yang paling mulia hatinya ini Bapak SF.”
Namun SF tidak terpancing.
“Termasuk bapak mulia juga,” jawabnya.
Ketegangan mulai meningkat saat Abdul Wahid mengungkit pertemuan keduanya pasca pelantikan. Menurut Abdul Wahid, saat itu ia mendatangi rumah SF Hariyanto setelah mendapat ajakan bertemu.
Abdul Wahid kemudian menyinggung soal rekaman pemeriksaan KPK yang menurutnya pernah diperlihatkan kepadanya.
“Begitu saya sampai di sana, apa yang bapak tunjukkan ke saya?” tanya Abdul Wahid.
“Saya tidak ada. Apa yang saya tunjukkan?” jawab SF.
Abdul Wahid lalu menyebut dirinya diperlihatkan rekaman saat diperiksa penyidik KPK.
“Saya heran, kaget ini Pak. Rekaman KPK sangat secret ketika saya disidik. Itu ditunjukkan ke saya, ditunjukkan ke Pak Arwin dan banyak orang.”
Abdul Wahid juga menuding adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF Hariyanto.
“Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya banyak di mana-mana, termasuk di KPK juga tangan saya ada di mana-mana.”
Mendengar tudingan tersebut, SF Hariyanto langsung membantah keras.
“Yang ngomong kan bapak, bukan saya yang ngomong. Asal aja bapak,” tegas SF.
Abdul Wahid menyatakan memiliki saksi atas pernyataannya.
“Ada saksinya.”
SF Hariyanto pun menantang agar saksi tersebut dihadirkan ke persidangan.
“Silakan aja. Panggil aja ke sini. Ajak saja panggil,” jawabnya.
Momen saling bantah itu menjadi salah satu bagian paling menyita perhatian sepanjang persidangan. Ruang sidang yang semula fokus pada pembuktian perkara beberapa kali berubah menjadi arena terbukanya konflik politik antara dua tokoh yang pernah berada dalam satu perahu kekuasaan.
Dari pertanyaan soal Pilgub, sindiran tentang jabatan, hingga tudingan terkait rekaman pemeriksaan KPK, sidang tersebut memperlihatkan bahwa keretakan hubungan Abdul Wahid dan SF Hariyanto ternyata jauh lebih dalam daripada yang selama ini terlihat di hadapan publik.(Ef)












