Nunukan,MN Cakrawala – Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai persoalan utama masyarakat Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, adalah konektivitas yang belum memadai.
Menurutnya, kondisi geografis Krayan yang berada di dataran tinggi membuat transportasi sungai tidak dapat menjadi andalan. Sementara konektivitas darat menuju Malinau maupun antarwilayah di Krayan masih banyak berupa jalan tanah yang sulit dilalui, terutama ketika musim hujan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat sangat bergantung pada penerbangan perintis. Padahal, penerbangan udara memiliki keterbatasan kapasitas dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Akibatnya, biaya distribusi kebutuhan pokok, BBM, material bangunan, hingga mobilitas masyarakat menjadi tinggi.
Di sisi lain, kedekatan Krayan dengan Bakelalan, Sarawak, Malaysia, membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan sejumlah kebutuhan dari negara tetangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan konektivitas bukan sekadar masalah transportasi, tetapi sudah berdampak pada ekonomi dan kehidupan masyarakat perbatasan.
Djoko menilai pembangunan konektivitas darat Malinau–Krayan, termasuk penyelesaian jaringan jalan paralel perbatasan dan jalan penghubung antarkecamatan, perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurutnya, keberadaan jalan yang layak akan menurunkan biaya logistik, memperlancar distribusi kebutuhan pokok, membuka akses pasar bagi hasil pertanian masyarakat, serta mempermudah pelayanan kesehatan dan pendidikan.
“Perbatasan tidak cukup dijaga dengan pos dan aparat. Kehadiran negara juga harus dirasakan masyarakat melalui jalan yang layak dan transportasi yang terjangkau,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah perlu memberikan target yang jelas dan dukungan anggaran yang memadai untuk menuntaskan konektivitas Krayan.
Kedaulatan di wilayah perbatasan, menurut Djoko, pada akhirnya harus diwujudkan dalam bentuk nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai masyarakat tinggal di beranda negara, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup justru lebih bergantung kepada negara tetangga. Konektivitas adalah bagian penting dari kehadiran negara,” katanya.(EF)












