Rel Mati, Ekonomi Mati: Siapa Menghambat Kebangkitan Kedungjati–Tuntang

Semarang,MN Cakrawala – Reaktivasi jalur kereta api Kedungjati–Tuntang bukan sekadar proyek transportasi. Ini adalah ujian keseriusan negara: mau menghidupkan ekonomi rakyat atau membiarkan aset strategis membusuk tanpa arah.

 

Jalur sepanjang 30 kilometer ini bukan rel biasa. Ia adalah warisan sejak 1873—urat nadi logistik dan ekonomi di masa lalu. Kini? Terbengkalai, tertutup semak, dan nyaris dilupakan.

 

Lebih ironis lagi, proyek reaktivasi yang sempat dimulai justru berhenti di titik memalukan: baru 1,2 kilometer rel terpasang, lalu mangkrak. Ini bukan sekadar kendala teknis, tapi cermin lemahnya komitmen dan arah kebijakan transportasi nasional.

 

Padahal, jika dihidupkan, jalur ini berpotensi besar:

 

* Mengurai kemacetan dan menekan risiko kecelakaan di jalur Bawen

 

* Menghubungkan simpul ekonomi Semarang–Salatiga–Ambarawa

 

* Menggerakkan ekonomi pedalaman dari Tuntang hingga Kedungjati

 

* Menghidupkan pariwisata Rawa Pening dan Museum Ambarawa

 

Menurut Djoko Setijowarno, reaktivasi jalur kereta api bukan hanya soal menghidupkan rel lama, tetapi bagian dari strategi besar membangun sistem transportasi yang berkelanjutan dan berkeadilan. Ia menegaskan, transportasi berbasis rel harus menjadi tulang punggung mobilitas karena lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan dibanding dominasi kendaraan jalan raya.

 

Namun realitas di lapangan berkata lain. Di tengah gencarnya pembangunan jalan tol, transportasi publik berbasis rel justru seperti dianaktirikan. Ketika rel mati, rakyat kecil kehilangan akses murah dan aman.

 

Lebih dari itu, pembiaran ini membuka celah klasik: penyerobotan aset negara, kerusakan infrastruktur, hingga hilangnya jejak sejarah. Jika terus dibiarkan, jalur ini bukan hanya mati—tetapi akan hilang selamanya.

 

Kedungjati–Tuntang bukan sekadar lintasan mati. Ia adalah simbol kegagalan atau keberhasilan negara dalam berpihak pada transportasi publik.

Pertanyaannya: mau dihidupkan, atau dibiarkan jadi monumen kegagalan.(Ef)