Bus Murah Belum Tentu Aman, Keselamatan Harus Jadi Pertimbangan Utama

Jakarta,MN Cakrawala – Musim liburan sekolah selalu menjadi momen yang dinanti para pelajar untuk berwisata bersama teman dan keluarga. Namun di tengah tingginya antusiasme masyarakat menyewa bus pariwisata, akademisi transportasi Djoko Setijowarno mengingatkan agar faktor keselamatan tidak dikorbankan hanya demi mendapatkan harga sewa yang lebih murah.

 

Menurut Djoko, banyak calon penyewa bus yang masih menjadikan tarif sebagai pertimbangan utama tanpa memastikan kondisi armada dan kompetensi penyedia jasa transportasi. Padahal, risiko kecelakaan lalu lintas dapat meningkat apabila kendaraan yang digunakan tidak memenuhi standar keselamatan atau dioperasikan oleh pengemudi yang kelelahan.

 

“Bus murah belum tentu aman. Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai demi menghemat biaya, justru mengabaikan aspek yang paling penting, yaitu keselamatan penumpang,” tegas Djoko Setijowarno.

 

Ia menjelaskan, sebelum menyewa bus wisata, masyarakat wajib memastikan perusahaan otobus (PO) memiliki legalitas yang jelas dan armada yang digunakan telah lulus uji berkala atau KIR. Selain itu, kondisi teknis kendaraan seperti sistem pengereman, ban, pintu darurat, alat pemadam api ringan (APAR), hingga palu pemecah kaca juga perlu diperiksa.

 

Tidak hanya kondisi kendaraan, faktor manusia juga menjadi perhatian penting. Djoko menilai kelelahan pengemudi masih menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan bus di Indonesia. Karena itu, penyelenggara perjalanan harus memastikan jam kerja sopir sesuai ketentuan dan menyediakan pengemudi cadangan apabila perjalanan berlangsung dalam waktu yang panjang.

 

“Jangan memaksakan satu pengemudi menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat yang cukup. Jika perjalanan lebih dari delapan jam atau membutuhkan perjalanan malam, sebaiknya disiapkan dua pengemudi agar keselamatan tetap terjaga,” ujarnya.

 

Selain itu, perencanaan perjalanan juga harus dilakukan secara matang. Rute yang akan dilalui perlu dipelajari terlebih dahulu, terutama jika melewati jalur pegunungan, tanjakan curam, atau daerah yang rawan kemacetan. Menurutnya, kesiapan armada dan penguasaan rute oleh pengemudi dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan di perjalanan.

 

Djoko juga mengingatkan agar seluruh biaya perjalanan dibahas secara transparan sejak awal, termasuk biaya tol, parkir, penginapan kru, hingga perlindungan asuransi bagi penumpang. Kejelasan administrasi akan menghindarkan penyewa dari persoalan yang tidak diinginkan selama perjalanan berlangsung.

 

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perjalanan wisata tidak diukur dari seberapa banyak destinasi yang dikunjungi, melainkan dari kemampuan seluruh peserta untuk kembali ke rumah dengan selamat.

 

“Tujuan wisata bisa dicari dan dikunjungi kapan saja. Tetapi keselamatan dan nyawa penumpang tidak bisa digantikan. Karena itu, jangan pernah menempatkan harga murah di atas keselamatan,” pungkasnya.

 

Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim liburan sekolah, pesan tersebut menjadi pengingat penting bahwa perjalanan yang menyenangkan harus dimulai dari transportasi yang aman, laik jalan, dan dikelola secara profesional. Sebab pada akhirnya, tidak ada liburan yang lebih berharga daripada seluruh rombongan dapat berangkat dengan bahagia dan pulang dengan selamat.(Ef)