Sidoarjo, MN Cakrawala – Para petani Desa Rejeni semakin terbebani akibat terus merangkaknya harga pupuk non-subsidi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga yang terjadi hampir setiap pekan membuat biaya produksi pertanian melonjak tinggi.
Dalam diskusi warung kopi Poktan Rejeni Makmur 3, Sabtu (20/06/2026). Dirasa lonjakan harga pupuk mulai terasa sejak munculnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global Sesahutan antar petani, celetuk H. Suramat dirinya menilai semua ini berkaitan dengan minyak. Jadi bukan lagi sekadar naik beberapa ribu rupiah, tetapi sudah berubah harga.
Menurutnya, harga berbagai jenis pupuk non-subsidi kini mengalami kenaikan sekitar 20 hingga 30 persen. Bahkan, bahan plastik yang digunakan sebagai kemasan pupuk, seperti karung dan kantong plastik, mengalami kenaikan harga hingga 100 persen.
Dampak kenaikan tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor pupuk, tetapi juga hampir seluruh produk pertanian yang menggunakan bahan kemasan berbasis plastik.
Beberapa jenis pupuk yang paling banyak dicari petani, seperti Urea, KCL, SP-36, dan berbagai jenis NPK, tercatat mengalami kenaikan harga cukup tajam.
Harga pupuk Urea non-subsidi saat tembus NPK tembus Rp 800.000, perkarung, Za Rp 450.000, perkarung, Phonska Rp 900.000.
Sementara itu, kebijakan pupuk subsidi hanya diperuntukkan untuk tanaman padi, sedang polowijo dan lainnya tidak.
Suramat dan rekan Poktan Rejeni Makmur 3, mengaku kesulitan menetapkan harga jual karena perubahan harga dari distributor terjadi hampir setiap pekan.
“Kami harus terus memperbarui harga. Tidak ada harga yang benar-benar tetap, sehingga cukup membingungkan bagi kami petani maupun pedagang yang membeli,” ujarnya.
Tak hanya harga yang terus merangkak naik, ketersediaan barang di pasaran juga mulai menipis. Sejumlah produk yang telah dipesan bahkan belum dapat dikirim karena keterbatasan bahan baku seperti mulsa dan kemasan.
“Banyak Petani yang tidak memiliki uang cukup ketika mengetahui harga terbaru. Kondisi ekonomi sedang lesu dan perputaran uang terasa lambat,” katanya.

Kenaikan harga pupuk yang terus berlanjut dikhawatirkan dapat berdampak pada produktivitas pertanian didesa Rejeni. Jika kondisi ini terus terjadi, petani berpotensi menghadapi beban biaya produksi yang semakin berat menjelang musim tanam berikutnya.
(Ubaid)












