Jangan Biarkan Halte Pasar Johar Mati Sia-Sia

SEMARANG,MN Cakrawala – Halte bus di kawasan Pasar Johar dinilai tidak seharusnya dibiarkan terbengkalai. Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), , mendorong Pemerintah Kota Semarang menghidupkan kembali rute Trans Semarang yang masuk langsung ke kawasan Pasar Johar.

 

Menurut Djoko, Pasar Johar memiliki sejarah panjang sebagai pusat transportasi umum Kota Semarang. Pada era 1980-an, kawasan tersebut menjadi titik akhir berbagai trayek Bus DAMRI maupun angkutan kota yang menghubungkan sejumlah wilayah di Semarang.

 

Namun seiring berjalannya waktu, pusat integrasi transportasi beralih ke kawasan Simpang Lima. Akibatnya, halte yang berada di dalam kawasan Pasar Johar kini tidak lagi dimanfaatkan secara optimal.

 

“Halte yang sudah dibangun jangan dibiarkan mati sia-sia. Kehadiran kembali Trans Semarang ke Pasar Johar akan menghidupkan fungsi halte sekaligus mempermudah masyarakat mengakses kawasan perdagangan ini,” ujarnya.

 

Djoko menilai, masuknya Trans Semarang ke Pasar Johar akan memberikan dampak berantai terhadap perekonomian. Akses transportasi yang lebih mudah diyakini mampu meningkatkan jumlah pengunjung, memperbesar peluang transaksi pedagang, serta menekan biaya perjalanan bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.

 

Selain manfaat ekonomi, kebijakan tersebut juga dinilai akan meningkatkan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk lansia, perempuan, penyandang disabilitas, dan pekerja sektor informal. Kehadiran angkutan umum yang terintegrasi dinilai mampu menghadirkan layanan transportasi yang lebih inklusif.

 

Di sisi lain, pengoperasian kembali halte di Pasar Johar juga dapat membantu pemerataan distribusi penumpang Trans Semarang, sehingga tidak seluruh aktivitas transit terpusat di Halte Simpang Lima maupun Balaikota.

 

Djoko menambahkan, Pasar Johar bukan sekadar pusat perdagangan, tetapi juga merupakan kawasan cagar budaya yang berdekatan dengan Kota Lama Semarang dan Masjid Agung Kauman. Karena itu, integrasi transportasi publik dinilai dapat menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali kawasan bersejarah tersebut sekaligus mendukung pengembangan wisata perkotaan.

 

“Ini bukan hanya soal mengubah trayek bus. Ini adalah upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat, mengoptimalkan aset transportasi yang sudah ada, sekaligus memperkuat Semarang sebagai kota yang ramah terhadap transportasi publik,” tegasnya.(Ef)