Pekanbaru,MN Cakrawala – Pemadaman listrik massal yang terjadi di sejumlah wilayah Riau pada Jumat malam (22/5/2026) sejak pukul 18.44 WIB kembali memantik pertanyaan besar tentang kualitas layanan kelistrikan di daerah. Di saat masyarakat membayar tagihan tepat waktu dan negara terus memberi dukungan besar kepada sektor ketenagalistrikan, warga justru kembali menjadi pihak yang paling dirugikan akibat padam mendadak tanpa kepastian.
Gangguan sistem kelistrikan yang diakui oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Riau dan Kepulauan Riau tidak hanya soal lampu yang mati. Dampaknya jauh lebih luas: aktivitas ekonomi lumpuh, pelaku UMKM kehilangan omzet, makanan beku dan stok dagangan terancam rusak, jaringan internet terganggu, hingga pekerjaan masyarakat terhenti seketika.
Ironisnya, kejadian seperti ini terus berulang di tengah besarnya dukungan negara terhadap sektor energi dan ketenagalistrikan. Publik pun berhak bertanya: mengapa pelayanan listrik masih rentan kolaps, sementara beban subsidi dan kompensasi energi dari negara terus mengalir?
Pelanggan rumah tangga hingga pelaku usaha kecil menjadi pihak pertama yang menanggung dampak nyata. Tidak sedikit warga yang harus menghadapi kerugian material tanpa mekanisme ganti rugi yang jelas atas kerusakan alat elektronik atau kehilangan pendapatan akibat pemadaman mendadak.
“Jangan hanya meminta masyarakat tenang. Yang dibutuhkan publik adalah transparansi: apa penyebab gangguan, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana jaminan kejadian serupa tidak terus berulang,” demikian kritik yang mulai ramai disuarakan warga di media sosial.
Di satu sisi, PLN meminta masyarakat memahami proses pemulihan. Namun di sisi lain, masyarakat juga menuntut pelayanan yang lebih profesional dan sistem kelistrikan yang tidak mudah tumbang. Sebab listrik hari ini bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan urat nadi ekonomi dan kehidupan digital masyarakat.
Jika gangguan besar masih terus terjadi, publik menilai evaluasi menyeluruh terhadap keandalan sistem distribusi listrik di Riau menjadi sebuah keharusan. Jangan sampai masyarakat terus diminta maklum, sementara kerugian akibat padam listrik selalu dibebankan diam-diam kepada konsumen.
Penutup yang nendang: Dalam situasi seperti ini, satu pertanyaan publik terasa semakin keras menggema: sampai kapan rakyat harus membayar mahal untuk layanan yang ketika krisis justru tiba-tiba menghilang.(Ef)












