BANYUWANGI-MNCakrawala,Ada sekolah yang mengawali pagi dengan deretan instruksi. Ada pula yang memilih memulai hari dengan sesuatu yang lebih sederhana: menata hati sebelum menata pelajaran.
Di SMPN 3 Genteng, pagi bukan sekadar waktu menunggu bel berbunyi. Sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, musala dan Aula sekolah sudah lebih dulu hidup. Murid-murid mengawali hari dengan Salat Dhuha berjamaah, kemudian duduk bersama di ruang-ruang terbuka sekolah, membuka Al-Qur’an, membaca, menyimak, dan mengikuti praktik keagamaan secara bersama-sama.
Pemandangan itu tampak sederhana. Namun, justru dari kebiasaan sederhana itulah karakter sedang ditanam.
Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak pula harus menunggu peringatan hari besar keagamaan. Praktik keagamaan ditempatkan sebagai bagian dari keseharian. Murid dibiasakan mengawali aktivitas dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, melantunkan Asmaul Husna, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, serta membangun suasana yang lebih tenang dan khusyuk sebelum memasuki dunia akademik.
Inilah wajah School Religious Culture (SRC) yang sedang dibangun SMPN 3 Genteng. Agama bukan hanya terdengar dalam ceramah, melainkan hadir dalam kebiasaan. Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Ia membutuhkan pengulangan, keteladanan, dan lingkungan yang memungkinkan murid untuk mempraktikkannya setiap hari.
“Pagi adalah ruang pendidikan yang sangat berharga. Sebelum matematika mengajarkan angka, IPA menjelaskan alam, atau Bahasa Indonesia mengajarkan kata, kami terlebih dahulu ingin mengajak anak-anak mengenal dirinya dan nilai-nilai yang menjadi pijakannya,” ujar Kepala SMPN 3 Genteng.
Rutinitas ini juga menjadi upaya sekolah dalam menguatkan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Sekolah ingin memastikan bahwa kecerdasan intelektual berjalan beriringan dengan kecerdasan spiritual dan emosional.
Bukan berarti semua persoalan karakter selesai hanya dengan rutinitas keagamaan. Justru tantangannya adalah bagaimana kebiasaan tersebut perlahan menjelma menjadi perilaku: jujur ketika tidak diawasi, santun ketika berbeda pendapat, disiplin ketika tidak diperintah, dan peduli ketika melihat orang lain membutuhkan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan budaya religius di sekolah bukan diukur dari seberapa sering murid membaca ayat suci. Melainkan dari seberapa jauh nilai-nilai yang dibacanya ikut hidup dalam perilakunya, SMPN 3 Genteng sudah memulainya setiap pagi, sebelum bel berbunyi.
(fsulistio)












