MEDAN,MN Cakrawala – Revitalisasi Terminal Terpadu Amplas menjadi salah satu bukti nyata upaya pemerintah memodernisasi transportasi darat di Indonesia. Terminal yang dahulu identik dengan kesan semrawut, kumuh, dan rawan premanisme kini tampil lebih bersih, nyaman, dan modern dengan fasilitas yang menyerupai bandara.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai transformasi tersebut patut diapresiasi. Menurutnya, Terminal Amplas telah berkembang menjadi simpul transportasi modern yang tidak hanya melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), tetapi juga terintegrasi dengan angkutan perkotaan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski demikian, Djoko mengingatkan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari megahnya bangunan dan lengkapnya fasilitas. Tantangan terbesar justru berada pada aspek operasional di lapangan.
Salah satu persoalan yang hingga kini masih membayangi adalah keberadaan terminal bayangan dan loket liar di luar kawasan terminal. Praktik menaikkan dan menurunkan penumpang di pinggir jalan membuat sebagian bus enggan masuk ke terminal, sehingga tujuan penataan lalu lintas dan optimalisasi fungsi terminal belum sepenuhnya tercapai.
Selain itu, integrasi dengan moda transportasi perkotaan juga dinilai belum berjalan optimal. Keberadaan angkutan kota yang masih kerap mengetem di luar terminal turut memicu kemacetan dan mengurangi efektivitas fungsi Terminal Amplas sebagai pusat perpindahan antarmoda.
Djoko juga menyoroti besarnya biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas modern yang dimiliki Terminal Amplas. Menurutnya, gedung bertingkat, sistem pendingin ruangan, eskalator, fasilitas sanitasi, hingga teknologi digital memerlukan dukungan anggaran yang berkelanjutan agar kualitas pelayanan tidak mengalami penurunan.
Di sisi lain, aspek keamanan di kawasan sekitar terminal juga perlu mendapat perhatian. Meski area dalam terminal telah dilengkapi pengawasan CCTV dan petugas keamanan, penataan wilayah penyangga di luar pagar terminal masih membutuhkan sinergi antara pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Revitalisasi Terminal Amplas merupakan langkah besar dalam modernisasi transportasi darat. Namun pekerjaan belum selesai. Penertiban terminal bayangan, penguatan integrasi transportasi, konsistensi perawatan fasilitas, dan penegakan ketertiban menjadi kunci agar terminal ini benar-benar berfungsi sebagai pusat transportasi publik yang aman, nyaman, dan membanggakan,” ujar Djoko.
Menurutnya, apabila berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, Terminal Terpadu Amplas tidak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga berkembang sebagai pusat mobilitas dan pertumbuhan ekonomi baru bagi Kota Medan.(Ef)












