Jalur Tunggal Jadi Tantangan, Djoko Setijowarno: KA Sumut Butuh Percepatan Modernisasi Infrastruktur

Medan,MN Cakrawala – Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai layanan kereta api penumpang di Sumatera Utara memiliki potensi besar sebagai tulang punggung transportasi regional. Namun, pengembangan layanan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan infrastruktur jalur tunggal (single track) dan tingginya risiko di pelintasan sebidang.

 

Menurut Djoko, wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Medan saat ini melayani 64 perjalanan kereta api penumpang setiap hari, didukung layanan PSO yang membuat tarif semakin terjangkau dan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap transportasi berbasis rel.

 

Selama Januari–Mei 2026, jumlah penumpang kereta api di Sumatera Utara mencapai 2,26 juta orang. Meski demikian, rata-rata penumpang harian mengalami penurunan sekitar 11,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama terjadi pada layanan kereta perkotaan akibat perubahan pola mobilitas masyarakat setelah penerapan sistem Work From Home (WFH).

 

Djoko menjelaskan, tantangan terbesar saat ini adalah kapasitas jalur yang masih didominasi single track. Kondisi tersebut membuat pengaturan persilangan antarkereta menjadi lebih rumit sehingga gangguan kecil berpotensi menimbulkan keterlambatan berantai pada seluruh perjalanan.

 

Selain itu, aspek keselamatan juga menjadi perhatian serius. Dari 640 pelintasan sebidang di wilayah operasional, sekitar 75 persen masih belum dijaga. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan sekaligus memaksa kereta mengurangi kecepatan di sejumlah titik sehingga memengaruhi ketepatan waktu perjalanan.

 

Di sisi lain, infrastruktur perkeretaapian juga dinilai masih rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Terhentinya operasional KA Cut Meutia sejak Desember 2025 menjadi bukti bahwa kerusakan prasarana dapat langsung mengganggu layanan transportasi masyarakat.

 

Menurut Djoko, agar kereta api semakin kompetitif dibandingkan angkutan jalan, pemerintah perlu mempercepat pembangunan jalur ganda, meningkatkan keselamatan pelintasan sebidang, memperluas jangkauan jaringan rel, serta memperkuat ketahanan infrastruktur terhadap bencana.

 

“Keberhasilan program subsidi tarif (PSO) harus diimbangi dengan modernisasi prasarana. Tanpa peningkatan infrastruktur, peningkatan frekuensi perjalanan justru akan semakin membebani kapasitas jalur yang ada,” tegas Djoko.

 

Ia menilai transformasi infrastruktur menjadi kunci agar kereta api di Sumatera Utara mampu memberikan layanan yang lebih aman, tepat waktu, dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendukung mobilitas regional.(Ef)