Sumenep,MN Cakrawala – Pemberian makan bergizi gratis ( MBG ) yang penyalurannya dikelola oleh yayasan Syifa Ananta yang berlokasi di Desa Talang kecamatan Saronggi banyak menuai keluhan dari para wali murid.
Pasalnya suguhan makanan yang disajikan terhadap para siswa dan siswi TK. Al – Qur’an Yas’a banyak menuai protes dari wali murid, makanannya pedas dan tak sesuai dengan selera anak yang masih usia dini.
Disamping makanannya pedas nasi dan lauknya pun sangat sedikit dan dinilai jauh dari standart yang layak.
Bungkusan nasi yang seharusnya menjadi sarapan bagi siswa akhirnya dibuang dan diberikan ke ternak alias ayam.
Menurut penuturan wali murid saat dikonfirmasi terkait suguhan nasi bungkus merasa sangat kecewa ” waduh…kok menunya pedas , harusnya SPPG tahu bahwa ini makanan untuk anak kecil ” ungkap W wali murid yang setiap hari nungguin putranya sekolah.14/07/2026.
Bukan cuma itu kemarin, bahkan lauk berupa tahu ada yang basi.
Dugaan adanya penyimpangan dalam dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak TK yang menyajikan menu pedas dan tidak layak konsumsi harus ditindak lanjuti oleh pihak terkait.
Kasus ini bermula dari protes wali murid mengenai menu tidak sesuai petunjuk teknis (juknis), seperti ikan yang keras dan sambal pedas.
Secara terpisah ketua LSM LIPK Saifiddin terkait persoalan tersebut angkat bicara, ” Menu buruk ini berjalan beriringan dengan skandal korupsi besar di Badan Gizi Nasional (BGN) yang saat ini sedang disidik oleh Kejaksaan Agung.
” Menu MBG untuk anak PAUD dan TK saya kritik keras karena menyajikan lauk ikan yang keras dan sambal yang pedas, yang dinilai sangat tidak sesuai dengan pencernaan anak usia dini.” Ungkap Sai ( panggilan akrabnya )
” Kalau kasus seperti ini masih terus berlangsung, maka saya akan mendesak BGN agar SPPG Syifa Ananta yang ada di Desa Talang dievaluasi dan jika terbukti ada penyimpangan dalam pelaksanaannya agar di suspend.
” Kasus seperti sudah menjadi atensi saya . Sesuai laporan dan data yang kami punya SPPG Syifa Ananta ini saya menduga terlalu banyak mengambil untung , sehingga lupa standart mutu makanan yang layak untuk semua siswa khususnya anak di usia dini.” ( AJ ).












