Djoko Setijowarno: Kereta Api Logistik Sumut Punya Potensi Besar, Namun Masih Terkendala Infrastruktur

MEDAN,MN Cakrawala – Akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), , menilai angkutan barang berbasis kereta api di Sumatera Utara memiliki potensi besar menjadi tulang punggung sistem logistik regional. Namun, potensi tersebut dinilai belum tergarap secara optimal karena masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi infrastruktur maupun sistem distribusi barang.

 

Menurut Djoko, layanan angkutan barang di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan saat ini didominasi komoditas CPO, peti kemas, dan BBM. Meski demikian, performa ketiga komoditas tersebut menunjukkan tren yang berbeda.

 

“Angkutan peti kemas dan BBM mengalami pertumbuhan positif, sementara angkutan CPO justru mengalami penurunan yang sangat tajam. Kondisi ini menunjukkan bahwa kereta api masih sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar logistik dan pola distribusi komoditas,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, salah satu penyebab turunnya angkutan CPO adalah karena banyak perusahaan memilih mengirim hasil sawit menggunakan truk langsung menuju pabrik pengolahan maupun pelabuhan. Selain lebih fleksibel, distribusi melalui jalan raya dinilai lebih praktis karena tidak memerlukan proses bongkar muat berulang.

 

Di sisi lain, jaringan rel di Sumatera Utara yang masih didominasi jalur tunggal (single track) juga menjadi kendala tersendiri. Kondisi tersebut membatasi kapasitas perjalanan kereta barang karena harus berbagi lintasan dengan kereta penumpang, sehingga waktu tempuh logistik menjadi kurang kompetitif.

 

Djoko juga menyoroti masih tingginya pembatalan perjalanan kereta barang yang telah dijadwalkan dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA). Menurutnya, hal itu mengindikasikan belum optimalnya pemanfaatan kapasitas angkutan barang, baik akibat fluktuasi permintaan maupun kendala operasional di lapangan.

 

Selain persoalan kapasitas lintas, kerentanan infrastruktur terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, turut menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar distribusi logistik melalui kereta api dapat berlangsung secara berkelanjutan.

 

Karena itu, Djoko mendorong adanya sinergi antara pemerintah, regulator, PT KAI, dan dunia usaha untuk memperkuat sistem logistik berbasis rel. Upaya tersebut antara lain melalui pembangunan jalur ganda, peningkatan konektivitas first mile dan last mile menuju kawasan industri dan perkebunan, serta penyusunan skema kerja sama bisnis yang lebih fleksibel.

 

“Jika hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi, kereta api memiliki peluang besar menjadi moda logistik yang lebih efisien, berkapasitas tinggi, dan mampu memperkuat daya saing perekonomian Sumatera Utara,” pungkasnya.(Ef)