Kapolda Jenguk Mahasiswa Korban Aksi, Publik Masih Menunggu: Benarkah Kasus Ini Akan Terang

Pekanbaru,MN Cakrawala – Kunjungan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan ke Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru untuk menjenguk mahasiswa Muhammad Lutfi yang terluka saat aksi unjuk rasa memang membawa pesan empati. Namun di tengah berbagai pernyataan soal transparansi dan komitmen mengusut tuntas kasus tersebut, publik masih menyimpan satu pertanyaan besar: apakah kasus ini benar-benar akan dibuka seterang-terangnya atau justru berakhir seperti banyak peristiwa serupa yang perlahan menghilang dari perhatian?

 

Kapolda menyatakan siap mengusut siapa pun yang bertanggung jawab, bahkan jika pelakunya adalah anggota kepolisian sendiri. Pernyataan itu terdengar tegas. Namun bagi sebagian kalangan, janji penyelidikan bukanlah hal baru. Yang ditunggu masyarakat bukan lagi komitmen, melainkan hasil nyata yang mampu menjawab bagaimana seorang mahasiswa bisa mengalami luka saat menyampaikan pendapat yang dijamin oleh konstitusi.

 

Di sisi lain, perintah kepada Propam dan Reskrim untuk memeriksa seluruh rangkaian pengamanan aksi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang memang perlu dievaluasi. Jika seluruh prosedur telah berjalan sesuai SOP, lalu bagaimana insiden yang menimpa Lutfi bisa terjadi? Pertanyaan inilah yang hingga kini masih menggantung dan menuntut jawaban yang jelas.

 

Kondisi Lutfi yang berangsur membaik tentu menjadi kabar baik. Namun kesembuhan korban tidak otomatis menghapus tuntutan publik terhadap pengungkapan fakta. Justru ketika korban mulai pulih, perhatian kini beralih pada sejauh mana keberanian aparat mengungkap siapa yang sebenarnya bertanggung jawab.

 

Laporan yang disampaikan IMM dan Aliansi Cipayung Plus ke Polda Riau memang menunjukkan masih adanya kepercayaan terhadap mekanisme hukum. Akan tetapi, kepercayaan itu memiliki batas. Jika proses penyelidikan berjalan lamban, tidak transparan, atau berakhir tanpa penetapan pihak yang bertanggung jawab, maka kepercayaan yang saat ini masih tersisa bisa berubah menjadi kekecewaan yang lebih besar.

 

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menunggu hasil penyelidikan. Mereka sedang menguji konsistensi institusi kepolisian dalam membuktikan bahwa slogan transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar pernyataan di depan publik. Sebab dalam banyak kasus, yang sering kali hilang bukan hanya pelaku, tetapi juga kepastian hukum.(Ef)